Polda Papua Tengah Gelar Long March Erari-Nabire, Uji Mental 109 Personel Baru Sebelum Penugasan

Nabire — Polda Papua Tengah memilih long march ekspedisi darat dari Erari ke Kota Nabire sebagai pintu awal penugasan 109 personel Polri ke wilayah Papua Tengah. Di atas kertas, kegiatan ini disebut sebagai latihan mental dan fisik. Namun di lapangan, ia juga mencerminkan pendekatan kebijakan sumber daya manusia yang menempatkan ketahanan mental sebagai prasyarat utama sebelum seorang polisi benar-benar diterjunkan ke medan tugas.
Ekspedisi ini diikuti oleh Baja Angkatan 54 (Polki) dan Angkatan 58 (Polwan) sebanyak 69 personel, ditambah lulusan SIP, PAG, Sespimmen, PTIK, dan Akpol, sehingga total mencapai 109 personel. Seluruhnya dijadwalkan untuk segera mengisi kebutuhan personel di delapan Polres di bawah Polda Papua Tengah.
Mewakili Kapolda Papua Tengah, Karo SDM Polda Papua Tengah Kombes Pol Felli Hermanto, S.I.K., M.Si., menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari pembinaan mental. Menurutnya, tantangan tugas kepolisian di Papua Tengah tidak bisa dihadapi hanya dengan kemampuan teknis.
“Ini latihan mental. Tantangan yang akan dihadapi di lapangan jauh lebih berat dibandingkan apa yang mereka jalani hari ini,” ujar Felli kepada media.
Papua Tengah bukan sekadar wilayah penugasan biasa. Medan geografis yang berat, keterbatasan infrastruktur, serta dinamika keamanan dan sosial menjadikan daerah ini sebagai ujian serius bagi kebijakan penempatan personel Polri. Long march ini, dalam konteks tersebut, dapat dibaca sebagai simulasi tekanan awal—sekaligus alat ukur kesiapan personel sebelum benar-benar memikul tanggung jawab di lapangan.
Namun pertanyaannya, sejauh mana uji fisik dan mental singkat mampu merepresentasikan kompleksitas tugas kepolisian yang akan berlangsung bertahun-tahun? Apakah ketahanan mental cukup diukur melalui daya tahan tubuh, atau justru membutuhkan pendekatan lain yang lebih sistematis dalam kebijakan SDM?
Polda Papua Tengah menegaskan bahwa kegiatan ini bukan akhir, melainkan awal. Kapolda Papua Tengah, melalui Karo SDM, menginstruksikan agar seluruh personel peserta ekspedisi segera didistribusikan ke delapan Polres tanpa penundaan. Perintah itu menunjukkan urgensi kebutuhan personel di wilayah Papua Tengah.
“Perintah pimpinan jelas. Jangan menunggu lama-lama. Seluruh personel segera bergeser ke satuan tugas masing-masing,” kata Felli.
Meski perjalanan dilaporkan melelahkan, seluruh peserta dan panitia disebut kembali dalam kondisi sehat dan selamat. Tidak ada laporan gangguan kesehatan serius selama kegiatan berlangsung.
Di titik ini, long march dari Erari ke Nabire bukan hanya soal jarak tempuh. Ia menjadi simbol cara institusi menyiapkan dan menilai manusia yang akan bekerja di garis depan pelayanan dan keamanan. Apakah pendekatan ini cukup untuk menjawab tantangan Papua Tengah ke depan, atau justru baru membuka pertanyaan lain tentang bagaimana seharusnya kebijakan SDM Polri dirancang untuk wilayah dengan risiko tinggi?

