Nabire — Komandan Korem 173/PVB Nabire, Brigadir Jenderal TNI I Ketut Mertha Gunarda, menilai Papua Tengah sebagai wilayah ikon strategis nasional yang menyimpan persoalan keamanan dan sosial rumit, tak bisa diselesaikan secara instan. Penilaian ini disampaikan saat menghadiri Gelar Operasi Kamtibmas 2026 dan Analisis serta Evaluasi (Anev) Triwulan IV 2025 di Aula Wicaksana Laghawa, Polres Nabire, Papua Tengah.Papua Tengah unik secara geografis, membentuk kompleksitas sosial masyarakatnya. Wilayah ini punya garis pantai di utara dan selatan, plus kawasan pegunungan tengah termasuk Pegunungan Jayawijaya—gunung tertinggi di Indonesia. Tak ketinggalan, lokasi tambang Grasberg, salah satu tambang emas terbesar dunia, menambah bobot strategisnya.“Secara tak disadari, Papua Tengah jadi ikon strategis nasional. Potensi ini sekaligus lahirkan tantangan besar, terutama di aspek keamanan dan ketertiban masyarakat,” tegas Gunarda.Ia soroti lompatan peradaban ekstrem di kalangan masyarakat Papua: dari hidup tradisional bergantung alam, kini terpapar cepat teknologi dan arus informasi. Hal ini picu ketimpangan adaptasi, berujung persoalan sosial berlapis.Respons masyarakat terhadap aparat negara pun beragam. Di sebagian wilayah, aparat disambut terbuka. Tapi di tempat lain, sikap tertutup hingga penolakan nonverbal masih jadi fakta lapangan. “Itu realitas yang harus diakui dan dipahami bersama,” ujarnya.Gunarda tekankan kekuatan adat dan nilai gotong royong masyarakat Papua. Sayangnya, konflik adat masih sering picu korban jiwa karena mekanisme penyelesaiannya belum sepenuhnya aman dan berkelanjutan.Dalam era ancaman keamanan nasional modern, perang tak lagi invasi fisik semata. “Negara bisa dilemahkan dari dalam lewat konflik sosial berkepanjangan,” pungkasnya. Karenanya, peran TNI di Papua Tengah melampaui pertahanan negara—menuju pembinaan teritorial yang holistik, perhatikan aspek sosial, budaya, dan psikologis warga setempat.“Kondisi Papua tak bisa diselesaikan kilat. Butuh kolaborasi lintas sektor: TNI, Polri, pemerintah daerah, tokoh adat, masyarakat, hingga media—untuk wujudkan stabilitas dan kesejahteraan,” tambah Gunarda.Acara Gelar Operasi Kamtibmas 2026 dan Anev Triwulan IV 2025 ini jadi ajang konsolidasi aparat keamanan, membaca dinamika Papua Tengah, serta rumuskan strategi pengamanan masa depan.